Senin, 01 Juni 2015

Almira Rinjani Sang Butiran Hujan

Tiba-tiba aku memikirkannya  dalam lamunan, Almira Rinjani. Pendekatanku dengannya hanya hitungan bulan, kata mereka sesuatu yang singkat amat mudah dilupakan dan aku justru merasa sebaliknya. Dia seseorang yang tangguh, selalu ceria, penyabar, dan yang paling spesial adalah kata-kata yang terlontar dari mulutnya selalu terasa ajaib oleh indera pendengaranku.

Aku sering mendengar teman-temanku berkata, “Kamu beda, jawabanmu tidak sama seperti  orang lain yang aku bayangkan” aku pun heran karena aku merasa biasa-biasa saja ketika salah satunya bertanya, “Misalnya kamu tidak punya anak, apa yang kamu lakukan?” spontan aku menjawab, “Aku akan menganggap anakmu sebagai anakku juga” dan itu terasa aneh ditelinga mereka. Tetapi sejak aku mengenal Mira lebih mendalam, aku mulai mengerti apa yang mereka rasakan, dia memang beda.

Kata-katanya yang paling membuatku tertawa adalah, “Kenapa muter ambil jalur yang lebih jauh sih, kamu kangen dan mau lebih lama boncengin aku ya?”  dia termasuk cewek humoris dan gila. Aku paling tahu kalau dia selalu menjaga kata-kata yang keluar dari mulutnya, dan aku yakin dia bukanlah orang yang mudah mengatakan itu kepada orang lain, yaps kata-kata itu memang untukku.

Aku mulai dekat dengan Mira saat semester kedua sekolah menengah atas, lebih dekat lagi ketika aku membuatnya celaka. Ceritanya teman-teman sekelasku mengagendakan jalan-jalan ke daerah perbukitan yang melewati beberapa sungai  yang arusnya lumayan deras, celakanya saat itu musim hujan, alhasil bebatuan di sepanjang sungai menjadi licin. Aku terpeleset membentur tubuh Mira, dan dia pun terjatuh, punggungnya terantuk batu sungai yang lumayan besar. Aku merasa bersalah melihatnya sesekali mengerjapkan mata, “Aku gak kenapa-napa kok” katanya mencoba meyakinkanku. Disepanjang perjalanan aku sering mengucapkan kata maaf sembari membantu dia berjalan dengan perlahan dan sesekali menggenggam tangannya di rombongan paling belakang.

Dalam “hubungan” yang rasanya aneh ini selalu saja ada masalah, seringnya adalah masalah luar. Paling parah adalah masalah teman yang dibesar-besarkan, kami berdua yang tidak punya masalah apa-apa malah terlibat, lebih jelasnya dilibat-libatkan. Masalah itu membuat hubungan Mira denganku dan teman-teman yang lainnya menjadi sedikit renggang, hanya satu orang yang bisa seperti itu, dan semua orang lain pun mengiyakan kalau memang “dia” dalangnya. Berhubung kami sama-sama cueknya dan masa bodoh dengan orang-orang pembuat onar, hubungan kami terselamatkan meskipun aku sadar ada sedikit perubahan darinya tentangku.

Beberapa minggu berlalu, Mira saat itu sibuk menyiapkan sebuah event penyambutan siswa baru disekolah kami, dia menjadi salah satu panitia utama, sedangkan aku hanya membantu sebisanya. Saat menjelang maghrib aku telah sampai di sekolah, aku belum melihat batang hidungnya. Aku khawatir dan mencoba menghubunginya, “Halo, maaf aku telat. Aku masih dirumah, kamu bisa jemput aku?” dia langsung berbicara diujung ponselnya, “Ya Allah, Oke tunggu aku bentar ya, see you” aku segera pergi kerumahnya mengendarai motorku. Sampai gang rumahnya aku merasa ada yang aneh, aku sekilas melihat bayangannya melewatiku tapi bukan denganku, dengan lelaki lain. “Hey, ayo buruan” aku kira bayangan itu tidak nyata, tenyata itu memang dia. Aku berbelok mengikutinya dari belakang, dengan tatapan nanar aku berusaha tenang.

Setelah tiba disekolah, aku terdiam dan aku sadar sedang cemburu berat. “Mir kamu kemana aja sih, kurang tanggung jawab sama acara, udah gitu telat lagi!” Maudy nyerocos dengan cepatnya. Aku hanya bisa diam, karena aku memang hanya sekedar membantu dibagian hiasan dan dekorasi di event tersebut, kalau hasil kerja Mira tidak maksimal, aku pun juga tak mau ikut campur di dalamnya meskip aku juga khawatir dengannya. Di akhir acara dia menghampiriku, “Kamu kenapa diam terus? Aku buat salah ya? Apa kamu sakit?”

“Berisik” aku menjawab sekenanya.

“Kamu cemburu? Maaf” dia menatapku dengan penyesalan. Dia orang yang mengerti tingkah laku dan emosiku selain sahabatku Elang yang sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri.

“Katanya tadi minta tolong buat aku jemput, malaaaaaah diboncengin orang lain” aku menjawabnya dengan senyuman, walaupun hatiku terkoyak.

“Kan aku tadi sudah minta maaf ay!” dia menundukkan kepala dan seketika hening pun terjadi.

“Jangan diulangin lagi, aku capek ayo kita pulang” dengan dongkol aku mengajaknya pulang bersama. Saat itu aku sadar, aku memang menyayanginya. Tanpa sengaja sejenis area teritorial itu pun terbentuk, dan aku tidak suka kalau ada orang lain masuk kedalam area itu selain diriku.

Sejak malam itu kami jadi jarang berbicara, aku takut akulah penyebab semua jarak ini. Aku menyusun rencana agar hubungan kami kembali seperti semula, aku berencana menghiburnya saat camp ke luar kota dengannya. Tetapi hal yang tak diduga terjadi, seminggu sebelum keberangkatan badanku drop dan dianjurkan untuk istirahat total. Dua hari sebelum keberangkatan, aku merasakan badanku agak mendingan dan aku minta izin bunda untuk pergi ikut camp tersebut. Ya seperti yang kalian tahu, Bunda melarangku pergi, aku pun menerima keputusan bunda dengan berat hati.



Pada malam hari, sehari sebelum keberangkatan aku pergi kerumahnya. “Aku sudah di depan gang rumah kamu, bisa keluar sebentar?” aku mengirim pesan pendek melalui ponselku. Beberapa menit kemudian dia keluar memakai atasan berwarna putih, cantik dan sederhana seperti biasanya. “Ada apa malam-malam kesini? Apa sudah sembuh?” dia mencemaskanku. “Aku tidak bisa ikut camp denganmu, maaf ya..” aku menunduk menjawabnya. “Iya, kamu istirahat saja dirumah” dia meneruskan percakapan dengan tersenyum. “Sepertinya suka banget aku ga ngikut camp, nih simpan ini!” aku mencoba menggoda dan memberikan sesuatu padanya. “Apa ini?” dia melihat benda itu. “Gantungan kunci couple, aku simpan bagian yang lainnya, aku pulang dulu ya” aku pamit. “Iya hati-hati” dia memandangku dan tersenyum.

 Tiga hari setelah acara camp itu, sahabatku yang lain bernama Rama mengajakku bicara. “Bla bla bla, eh iya waktu acara api unggun kemaren Bang Guntur nembak si Mira lho! Keren banget pokoknya!” Dia bercerita menggebu-gebu. “Haaahhh!!! Terus?” aku setengah berteriak menjawab ceritanya. “Ya si Mira nolak lah!” dia menjawabnya dengan antusias. “Alhamdulillah dia tidak menerimanya, bisa mampus aku!” Batinku berkecamuk.

Kami menjalani hari seperti biasanya dan semua terasa aman-aman saja sampai suatu ketika Mira mengatakan sesuatu kepadaku, “Si  Risa ketua organisasi kita sepertinya naksir kamu deh, dulu dia pernah tanya ke aku salah satu dari tiga cowok yang jalan barengan antara kamu, Elang dan Rama. Dan dia akhirnya perhatiin kamu dan minta nomor ponselmu, jadi ya aku kasih. Aku jadi ga enak sama dia gara-gara dekat sama kamu” suasana lobby sekolahku tiba-tiba menjadi hening. “Terus kenapa? Ya biarin aja lah!” Aku emosi sekali mendengarkan penuturannya, aku kecewa kenapa saat aku sayang dengan dia, dia seakan-akan justru menominasikan si ketua organisasi kami itu agar dekat denganku.

Sejak percakapan saat itu, emosi selalu menghanyutkanku. Aku tidak terima dengan kata-katanya, seakan rasa sayangku untuknya hanya omong kosong dan iseng belaka. Entahlah waktu seakan berjalan dengan cepat, pada akhirnya aku dan dia tak pernah saling berhubungan, baik sekedar menyapa ataupun memberi kabar melalui pesan seperti saat-saat sebelumnya.

Dua tahun setelah kelulusan, aku diberi kesempatan Tuhan untuk bisa lebih dekat dengannya di suatu perayaan besar salah satu teman seangkatan. Aku merasa hancur melihatnya, bukan tentang dengan siapa dia sekarang, tapi aku sadar betapa bodoh dan labilnya aku di waktu yang lalu. Aku pun hanya diam membisu melihat Mira bergurau dengan Elang beberapa langkah dari tempat dudukku. Aku hanya bertatapan dengannya saat dia memberikanku nasi rawon, “Ini bagian kamu” tetap dengan senyum manisnya seperti dulu. “Iya, terimakasih” aku menjawab datar dan tersenyum. Hari itu aku benar-benar ingin dikuatkan, “Tegarkan hatimu, bang!” aku mendadak konyol dan sok menjadi kuat, tetapi justru aku yang mengatakan kata itu kepada Elang. Elang mengerti dan menerima keadaanku yang sedikit lagi mungkin menjadi tidak waras.

Suatu hari aku ingin bertemu dengannya kembali, aku ingin meminta maaf karena telah menyakitinya disaat aku sedang terluka. Aku ingin mengatakan, “Almira, rasa sayangku waktu itu tidaklah bercanda, hanya pikiranku yang tak dapat mudah menerima. Thanks, karenamu aku belajar banyak hal, aku sangat bersyukur karena hadirmu, meskipun aku tak yakin kamu juga merasa begitu.”


Hujan pertama dibulan ini seketika menyadarkanku dari lamunan, aroma tanah basah menimbulkan suatu ketenangan untuk jiwa-jiwa yang sedang dilanda kerinduan.  Aku tersenyum memandang keluar jendela, rasa itu masih ada. Aku telah menitipkan rasa itu kepada butiran hujan, agar aku selalu mengingatmu yang menentramkan.

Bagikan

Jangan lewatkan

Almira Rinjani Sang Butiran Hujan
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka artikel Hot Coffee Beans? Tambahkan email untuk langganan baca. :)

Holla, terimakasih atas kunjungannya. Tinggalkan jejak kamu di komentar ya. :)