Kamis, 06 November 2014

Ketika Agama Bersinggungan dengan Budaya

Wuiiihhhh judulnya itu lho dalem banget, sebenernya nanti isinya pasti simpel dan tidak jelas. Akhir-akhir ini kepala saya sering flashback yang sedih-sedih banget, emang biasanya kalau sering memikirkan masalalu itu saya sedang susah, makanya memikirkan masalalu sekalipun indah itu adalah suatu bencana yang membuat pikiran saya pun tidak berkembang, ya belajar dikit sih tapi kegamangan rasanya itu yang lama sekali.

Yup awalnya saja sudah melenceng kan? Saya sebenarnya ragu-ragu menuliskan ini, bicarain yang nyrempet sama SARA itu bikin keringat dingin. Saya takut diarak dan dipenjara yang penjaganya para dementor *eh. Agama itu pedoman hidup, budaya adalah keyakinan yang diajarkan secara turun temurun. Itu pemikiran saya, sorry saya tidak mau ngajakin debat ya, saya lulusan SMA yang tidak terlalu pintar buat berdebat apalagi masalah agama.

Saya ingat sekali seorang guru pernah berkata, "Sakjane budaya santet menyantet itu dihilangkan" kata-kata ini dilontarkan seseorang yang baru memutuskan untuk menutupi auratnya. Santet itu adalah secuil dari bentuk budaya lho! Kalau kalian punya agama, lalu kenapa kalian takut disantet? NAH!

"Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk 'aku' jadi 'ana', 'sampeyan' jadi 'antum', 'sedulur' jadi 'akhi',... Kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya Arabnya." - Gus Dur

yang saya amati, entahlah ya.... budaya yang kita pegang itu malah seperti terjajah, Sekarang bedanya "leluhur" dengan tokoh yang ada dalam agamamu itu apa? seorang tokoh panutan dalam agamamu kan juga leluhurmu bukan? Adanya agama juga mempunyai perjalanan yang sebenarnya tidak terlepas dari yang lain, misalnya dari batu sebagai media untuk berdoa kepada sang pencipta, dan akhirnya batu, patung, etc pun ditiadakan menjadi doa meminta secara langsung. Semua cara itu bisa menghantarkan doa. Yang saya sesalkan, kebanyakan orang itu hanya berdoa ketika dia sedang beribadah, saat duduk maupun sedang santai malah tidak terpikirkan sekalipun untuk berdoa. terus apa ya harus beribadah dulu baru berdoa? Semua orang punya caranya dan keyakinan tersendiri dalam berhadapan sang pembuat hidup. Lalu kenapa kalian menyalahkan yang terdahulu dan seolah-olah kalian itu selalu benar sendiri? Agamamu mengajarkan kedamaian, berperilaku baik dan bertutur kata dengan santun, jadi jangan berperilaku membenarkan agamamu tetapi tidak menghargai keyakinan yang lain. :)


Berdoalah dengan bahasa dimana kamu berpijak, kamu tentu lebih yakin dengan bahasa yang kamu pahami daripada bahasa asing yang diri kamu sendiri pun masih bergumam "katanya". Hormati keyakinan orang lain seperti kamu menghormati perjalanan waktu. Kecuali kalau kamu memang termasuk diantar orang-orang yang tidak pernah bersyukur. :)

Bagikan

Jangan lewatkan

Ketika Agama Bersinggungan dengan Budaya
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka artikel Hot Coffee Beans? Tambahkan email untuk langganan baca. :)

Holla, terimakasih atas kunjungannya. Tinggalkan jejak kamu di komentar ya. :)